Prolog Akatsuki Hiden - YUKKIMURA. BLOGS

Latest

Selasa, 05 April 2016

Prolog Akatsuki Hiden

EVIL FLOWERS IN FULL BLOOM

Kegelapan menyelimuti langit yang berkilauan. Seorang laki-laki terduduk diam sembari menatap bulan yang keperakan. Begitu menenangkan, bahkan seakan-akan perasaan itu menyelimuti seluruh tubuhnya.


Tapi sepertinya, seolah-olah cahaya rembulan terlalu berbahaya untuk menyinari kaki manusia, tapi untuk hati- itu lain cerita. Cahaya rembulan adalah untuk mereka yang merasa aman, dan kegelapan, adalah untuk mereka yang kuat, pembimbing yang menunjukkan jalan pada mereka.

 

Cahaya rembulan yang begitu terang menyinari arah ke mana laki-laki itu pergi, walaupun kegelapan segera memenuhi harapan orang-orang seperti dirinya, cahaya kuat sekalipun akan tertutupi dan menghilang layaknya cahaya yang perlahan menghilang dibalik gunung.

 

Bulan bersembunyi, bintang-bintang tergusur hingga ke ujung gunung, pertanda malam akan segera berakhir.

 

Ia melarikan diri dalam perjalanannya, bulan demi bulan demi sebuah penebusan.

 

Cahaya pagi yang akan membakar bayangan malam.

 

Suara percikan air sungai yang mengalir di lembah akibat hembusan angin, memberikan kesan suasana yang menenangkan di hutan yang telah ada selama ratusan tahun tersebut.

 

Disini, kau dapat melihat betapa jelasnya sesosok pria yang tengah berjalan dibawah cahaya redup mentari yang menembus dedaunan, yang walaupun dulunya ia hanyalah seorang murid yang telah mengalami tekanan yang begitu besar selama ia tumbuh.

 

Tapi sekarang, saat ini, ia sudah dewasa, walaupun masa mudanya masih tergambar dengan jelas di wajahnya.

 

Pria ini bernama Uchiha Sasuke, perjalanan ini dilakukan atas dasar dendam di masa lalu, kematian, dan segala kebencian yang ia bawa dalam dirinya.

 

Sedikit kilas balik sebelum cerita ini, ia dulu tinggal sebatang kara, meninggalkan semua yang ia miliki dan lalu, ia dianggap sebagai seorang kriminal.

 

Sekarang, kita tahu dosa yang ia miliki.

 

Kau adalah dirimu sendiri.

 

Dan bepergian sendiri adalah cara untuk menebus hal itu, dan untuk mempertimbangkan kembali bayangannya sendiri.

 

Kejahatannya sendiri, yang seharusnya sudah membuatnya ditahan, dan itulah alasan utama mengapa Sasuke melakukan ini semua di dalam kegelapan.

 

Tapi, semua bebannya kini telah disingkirkan dan akhirnya ia dapat berjalan dengan bebas di bawah indahnya mentari. Semua itu berkat Uzumaki Naruto, atau shinobi yang kini dianggap sebagai 'Matahari dari Konohagakure'.

 

Lalu, Sasuke dengan perasaan putus asa mencoba memutuskan ikatan persahabatannya dengan Uzumaki Naruto, tapi sekarang Sasuke sangat bersyukur ia tidak memutuskan ikatannya dengan Naruto. Ia sangat bersyukur, ia tidak akan pernah memutuskan ikatannya dengan Naruto, karena sejak dulu Naruto-lah satu-satunya orang yang mempercayainya.

 

Tapi bukan hanya itu saja, walaupun ia telah mengabaikan, membuang, dan bersikap dingin kepada orang ini, tapi…..

 

Haruno Sakura telah memantapkan cinta dan perasaannya untuk orang sepertiku.

 

Dan selalu mencoba memberikan cahaya mentari musim semi di tengah kehidupannya yang suram.

 

Dan juga, sang shinobi dengan warna rambut layaknya es yang membeku, Hatake Kakashi, guru Sasuke, yang terus saja melihat dan mengawasi Sasuke, dan selalu memperlakukannya layaknya ia masih anggota dari Tim 7, walaupun di tengah-tengah masa konflik yang lalu, ia masih percaya pada Sasuke, bahkan Kakashi memberikannya kebebasan untuk melihat sendiri dunia layaknya seekor burung gagak.

 

Dan, aku telah menerima banyak bantuan dari orang-orang...

 

Sekarang, semuanya telah berubah menjadi lebih baik dan, semua orang, termasuk dirinya dapat merasakannya.

 

"....Hmm...?"

 

Sasuke masih terus berjalan ketika menghirup udara segar melalui hidungnya, dan ia merasakan pancaran sinar yang begitu terang di ujung pandangannya

 

"Pasti disana ujung dari hutan ini." gumamnya.

 

Dan lalu ia lanjut berjalan menuju cahaya di ujung hutan, yang kemudian ia merasakan pancaran sinar yang cukup mengejutkan dari arah pintu keluar hutan, dan bahkan pemandangan yang ia lihat lebih mengejutkannya.

 

Pohon-pohon muda berjejeran dan membentang di sepanjang sisi.

 

'Hutan ini masih muda..' Pikir Sasuke. Hutan yang masih muda tersebut mengingatkannya dengan anak-anak.

 

Sasuke sejenak memikirkan tentang betapa indahnya, atau mungkin lebih berpikir tentang, bagaimana bisa cahaya mentari menyinari pepohonan muda dan membuat mereka seperti bermandikan dengan cahaya tersebut.

 

"Bunga putih..."

 

Akar dibawah pepohonan tersebut diselimuti dengan bunga-bunga putih nan cantik yang tengah bermekaran.

 

Angin yang bertiup membawa aroma manis dari para bunga, membuat Sasuke berhenti sejenak seakan-akan ia tengah diundang untuk menikmati suasana yang begitu indah tersebut.

 

Dan Sasuke lalu melihat ke bawah sambil mendekati bunga-bunga tersebut, dengan rasa keingintahuan, ia berpikir, ketika ia melihat ke arah bunga-bunga tersebut ia merasakan perasaan damai dalam dirinya.

 

Aku mungkin tidak akan menyukai pemandangan seperti ini, jika aku masih berupa Sasuke yang dulu, bahkan dengan kehadiran bunga-bunga ini. Dulu, aku pasti tidak akan menyadari hal-hal seperti ini, walaupun aku pasti akan melewati hal-hal seperti ini --

 

Ketika ia tengah merenung ia secara tak sengaja menginjak sebatang bunga dan tiba-tiba ia mendengar sebuah pergerakan di dekatnya.

 

"Shuriken Kertas!"

 

Sasuke mendengar suara seseorang yang sedang berlari.

 

Sasuke dapat melihat sesosok bocah laki-laki muda tengah berlari diantara sela-sela pohon muda, sepertinya berumur antara 7-8 tahun, dan mengenakan sebuah topi dengan sebuah pola pulau.

 

"Musim Kupu-Kupu!" Teriak bocah tersebut dengan semua kekuatannya sembari melemparkan sesuatu, layaknya sedang membuat efek suaranya sendiri.

 

Jika dilihat secara seksama, sepertinya bocah tetsebut sedang melemparkan shuriken kertas dengan lipatan yang sangat rapih, Sasuke bahkan sampai tidak dapat mengatakan apakah itu merupakan kertas peledak atau bukan.

 

Bukan berarti bocah ini memiliki kemampuan untuk membunuh, sepertinya ia mengarahkannya pada satu titik, tapi akibat tertiup angin dari dasar lembah, shuriken kertas yang ia lemparkan menyebar ke segala arah.

 

"Oh, wow, hahaha, kau tau, semua yang kau butuhkan hanyalah satu."

 

Juga terdengar suara yang lain, dari posisi yang sedikit jauh dari bocah itu, seorang bocah lain tengah berdiri, dan jika diperhatikan sepertinya ia berusia sepuluh tahun atau lebih.

 

"Kau menggerakkan dadamu kebawah layaknya hanya itulah shuriken kertas yang kita miliki, Daiko."

 

"Hup da!" si bocah yang lain melompat ke depan.

 

"Bahkan jika satu... Satupun juga dapat meledak.. Apa itu ? Kaboom!" Lanjut bocah yang lain tersebut.

 

Kelihatannya mereka berdua bersaudara, si kakak pasti lebih terlatih daripada si adik, atau si adik sedang berperan layaknya pemeran pembantu jika dibandingkan dengan si kakak.

 

"Jadi, sekarang giliranku." Ucap si kakak, 

 

Daiko sembari ia mengambil sebuah shuriken kertas dan melemparkannya. Shuriken tersebut melesat dan membelah angin sementara si adik berlari mencoba menghindari shuriken yang dilemparkan oleh kakaknya.

 

"Jika begitu, aku akan menghindarinya." Ucap si adik sembari menjauh.

 

Si kakak menatap ke arah adiknya dengan senyuman dan tawaan, dan perlahan shuriken kertas miliknya menyesuaikan diri dengan angin, dan terbang layaknya parabola.

 

"Dan.... Serang!" Ucap si kakak.

 

Serangan tersebut mengenai si adik, meninggalkan bekas di topi miliknya.

 

" Apa yang?! Kenapa kau menyerangku?!"

 

"Itu hanya akan terasa sakit jika kau bilang sakit. Aku tidak akan menyerangmu jika kau tidak berlagak sombong, adikku Ken." Jelas si kakak kepada adiknya.

 

"Bagaimana bisa aku tidak terluka?!" lalu si adik menunjuk ke arah shuriken yang menancap di topinya. 

 

"Benda ini hampir menusuk kepalaku!"

 

"Kau tak perlu berlagak seperti itu, lagipula kau menyadarinya kan bahwa shuriken itu telah terjatuh di dekat kakimu?"

 

Daiko menunjuk ke arah shuriken kertas yang terjatuh dan tengah tergeletak di atas bunga-bunga putih.

 

"Ohh, sepertinya kali ini kau menang, nii-san." Ucap Ken sembari melihat ke arah shuriken kertas tadi.

 

"Yahh, itu hanya satu trik, tapi keberuntunganmu bagus juga."

 

"Hey, itu bohong, bohong! Hey, hey! Tunjukkan padaku trikmu yang lain!" Pinta si adik.

 

Si kakak tersenyum dan terlihat sedikit kesusahan.

 

Gerakan ini, ekspresi ini, mengingatkan Sasuke tentang masa lalu, tentang bagaimana kakak yang begitu ia hormati, serta tingkah sang adik yang begitu canggung.

 

Lalu, ketika di masaku dulu, aku selalu saja bertingkah seperti itu.

 

Lalu, Daiko menjawab,

 

"Trikku? Meditasi sambil menjaga anak bocah sepertimu, dan bahkan begitu, aku tetap akan dapat melakukan apa yang dapat aku lakukan ketika aku dapat melakukannya!"

 

Nada bicara si kakak kini terdengar lebih ramah dan si adik masih melihat ke bawah dan menyadari bahwa ia berada di situasi yang kurang mengenakkan.

 

"Ah?!"

 

Lalu tiba-tiba suara ledakan shuriken terdengar dari dasar lembah, si adik pasti telah mencampurkan antara shuriken yang dapat meledak dengan yang tidak dapat meledak.

 

"Hey, tunggu!" Ucap si adik dengan terburu-buru ketika si kakak berhasil mendorong adiknya tepat waktu.

 

"Kau tak perlu cemas, aku melindungimu!" Ucap Ken, entah mengapa Daiko mengerti bahwa itu tidak sepenuhnya benar.

 

"Oh..." Kini Daiko merasa lega walaupun sebelumnya mereka berada dalam keadaan yang cukup membahayakan.

 

"Um, maafkan aku, terima kasih atas bantuanmu, nii-san." Ucap si adik sambil membungkukkan kepala ke arah penyelamatnya.

 

Lalu si kakak mengulurkan tangan ke arah si adik dan ia meraih dan segera berdiri.

 

Tapi lalu, Daiko menemukan benda lain.

 

"Shuriken kertasku!" Suara si adik terdengar kegirangan saat ia mengetahui senjata berharganya sama sekali tidak rusak dan ia merasa sangat senang ketika menerima senjatanya kembali.

 

Tiba-tiba, mata tak berdosa Ken bertemu dengan mata Sasuke yang tengah mengawasi.

 

"Hey, kenapa ninja itu memiliki cara pandang yang sama seperti ninja Naruto?"

 

Mata Sasuke melebar akibat pertanyaan mendadak itu. Jelas terdapat perbedaan yang besar antara dirinya dengan Naruto, bocah ini mungkin sama sekali belum pernah melihat Naruto secara langsung.

 

“Naruto…?”

 

Sasuke merasa malu dengan kata-kata yang keluar dari mulutnya, dan juga merasa malu karena salah dianggap sebagai Naruto.

 

"Yah, matanya tidak terlihat seperti yang dikatakan orang-orang, mata Naruto lebih bulat." Si kakak mencoba mengoreksi.

 

"Oh yeah, mungkin seperti itu, tapi mungkin saja itu memang dia!"

 

Tampaknya Sasuke merasa seperti bayangan Naruto tengah memakan dirinya.

 

"Jadi, dengan itu, ninja mungkin memiliki ciri mereka masing-masing, sekarang huh?" Si adik membuka mulutnya lagi.

 

Walaupun mungkin aku selalu dikaitkan dengan nama Naruto, tapi di mata umum, mereka tidak dapat melihat hal tersebut, dan terlebih lagi bocah ini berpikir bahwa akulah Naruto.

 

Sasuke membuka mulutnya.

 

"Oh"

 

Hanya kata itu yang terucap dari bibirnya.

 

"Ya Tuhan! Kau begitu keren!" Si adik semakin memiliki keberanian untuk berpikir bahwa Sasuke adalah Naruto, walaupun Sasuke sendiri tidak mengatakan apapun tentang itu.

 

Kepalan Sasuke melunak ketika ia melihat ekspresi kesenangan dan ketertarikan bocah tersebut terhadap apa yang ia lakukan.

 

"Yeah! Ohh nii-san! Aku ingin menjadi seperti Naruto nii-san! Aku ingin kau mengajariku beberapa ninjutsu, yeah!"

 

"Apa yang kau katakan, Ken?" Keringat dingin Daiko menetes, 

 

"aku minta maaf, sudah lama semenjak terakhir kali ia melihat orang lain selain keluarga kami, tolong jangan hiraukan dia."

 

Daiko merasa kesulitan menahan adiknya, tetapi akhirnya adiknya berhasil lebih dekat ke tempat dimana Sasuke berdiri.

 

Keadaan menjadi merepotkan.

 

"Kami bukannya bermain, kami kesini untuk latihan!"

 

Tiba-tiba Sasuke dipenuhi dengan kenangan manis dan juga ingat masa dimana ia masih kecil dan berlatih dengan kakaknya.

 

Bocah ini mengingatkanku akan diriku saat masih muda.

 

Mata Sasuke melihat ke arah sosok yang tengah kesenangan di bawahnya…….

 

"...Huh.."

 

Walaupun Sasuke tidak terlalu suka hal seperti ini karena hanya membuang-buang waktu, ia hanya memiliki satu bulan yang tersisa dalam perjalanannya untuk menebus apa yang telah ia lakukan.

 

"Pinjamkan aku itu."

 

Tangan Sasuke mengarah ke shuriken kertas milik si bocah.

 

"Baiklah!" bocah itu dengan senang hati memberikan shuriken kertasnya kepada Sasuke.

 

Kali ini angin bertiup dari dasar lembah, menerbangkan satu kelopak bunga yang berjarak beberapa kaki darinya layaknya sedang menari di udara dan ia kemudian melemparkan shuriken tersebut ke arah kelopak bunga itu.

 

Sasuke melemparkan shuriken kertas itu dengan satu gerakan. Shuriken tersebut melesat dengan tingkat akurasi yang sama sekali berbeda tingkatan jika dibandingkan dengan yang bocah-bocah itu lakukan.

 

Shuriken tersebut tepat mengenai kelopak bunga yang tengah menari di udara.

 

"Oh!"

 

"Wow!"

 

"Luar biasa! Sungguh, luar biasa!"

 

"Kau keren sekali!"

 

Kedua bersaudara itu menunjukkan keterkesanan mereka dengan mulut yang terbuka lebar.

 

"Triknya adalah memperhitungkan intensitas dari kertas itu sendiri, atau kau bisa menggunakan chakramu, tapi aku tadi sama sekali tidak menggunakan chakra, itu lebih tergantung pada seberapa bagus lemparanmu."

 

Jika saja aku memiliki tanganku yang satu lagi...

 

"Naruto nii-san, wowo! Oh dan--" Ucap Ken dengan begitu bersemangat sambil ia mencoba untuk mengambil shuriken lain yang tersisa.

 

"Sasuke.."

 

Kedua bersaudara tersebut terdiam sejenak, "Apa?"

 

"Sasuke, namaku Sasuke..."

 

Kemudian mereka mulai tertawa dan tersenyum kearahnya.

 

"Sasuke nii-san!"

 

Di tempat ini, tempat dimana angin bertiup dari arah puncak menuju lembah bukit, beberapa shuriken kertas menancap diatasnya.

 

Shuriken ini menancap di tanah layaknya telah dilemparkan seseorang sebelumnya.

 

"Dan begitulah kau melakukannya..."

 

Tidak ada keuntungan sama sekali bagi Sasuke untuk melatih kedua bocah ini, tapi tetap saja ia mengajari mereka.

 

Sasuke memberitahu dan menunjukkan cara melempar shuriken kertas yang benar kepada dua bersaudara tersebut.

 

"Setelah ini, lakukan sendiri."

 

"Baiklah , Sasuke nii-san!"

 

Lalu Sasuke pergi meninggalkan mereka dan mereka mulai berlatih cara melempar shuriken kertas dengan benar.

 

Aku akan meninggalkan tempat ini segera untuk mendapatkan kembali kehidupanku, dan meninggalkan pemandangan hutan yang indah serta wajah tak berdosa dari kedua bersaudara tadi.

 

Sasuke lalu berbaring di atas rumput.

 

"Maafkan aku, tapi aku mungkin harus segera meninggalkan kalian.." Ucap Sasuke kepada kedua bocah tersebut dan menambahkan beberapa alasan seperti 'harus pergi karena aku merasa lelah' sambil memegangi kepalanya.

 

Ken berusaha memprotes keputusan Sasuke, tapi kemudian Daiko merendahkan kepalanya dengan gaya yang sopan, walaupun kebaikan seperti ini masih belum terlalu familiar bagi Sasuke.

 

"Apa-apa, Sasuke nii-san?" Ken berhenti melempar shuriken sebagai bentuk reaksi dari ucapan Sasuke.

 

Daiko kemudian berjalan dan mengambil satu persatu shuriken yang dilempar untuk membantu adiknya.

 

Si kakak sepertinya sudah menduga reaksi dari adiknya, tapi kemudian Sasuke berkata, "Wah-wah, kau tidak bisa meninggalkan senjatamu begitu saja, kau harus pergi dan mengambilnya sendiri."

 

Lalu sang adik berteriak memanggil nama seseorang yang tengah mengambil shuriken di belakangnya, 

 

"Nii-san!"

 

Ken mendekatinya walaupun itu sedikit menyebalkan baginya, melihat sang kakak mengambil shuriken untuknya tetapi sasuke nii-san memberitahunya untuk melakukannya sendiri, sehingga ia merasa sedikit kesal.

 

"Sasuke nii-san menyuruhku melakukan ini, kau pergilah istirahat!" Lalu ia berlarian mengambil sisanya.

 

Lalu Sasuke berdiri.

 

Aku juga harus mengambil beberapa, tidak enak dilihat jika mereka bekerja sementara aku hanya duduk dan menunggu.

 

"Oh, tunggu tunggu.." Daiko mencoba untuk mengajari adiknya tetapi adiknya malah memberitahunya untuk pergi istirahat, 

 

"Baiklah kalau begitu."

 

Sang adik kemudian menyadari Sasuke membantunya mengambil beberapa shuriken yang tergeletak di dekat tempat dimana Sasuke berdiri.

 

Sementara itu, si kakak langsung berlari ke tempat Sasuke.

 

"Aku ingin bilang, bahwa aku senang kau memutuskan untuk membantu kami."

 

Sasuke hanya tersenyum karena ia juga mengerti.

 

"Kau tau, semua ini hanya akan menyita waktumu, mengambil semua shuriken ini satu persatu, ini juga akan menahanmu dalam perjalananmu tapi jika kau harus segera pergi, tak baik bagimu jika kau terus membantu kami, kami hanya menahanmu, kau terlalu banyak membantu."

 

Dan sepertinya Sasuke sendiri juga merasa agak enggan untuk mengambil shuriken-shuriken tersebut,

 

"Ohh sebenarnya.." Daiko menghela napas lalu duduk di bawah pohon, ekspresi di wajahnya perlahan menjadi muram.

 

"Kau tau, aku tak bisa diandalkan sebagai seorang kakak, aku terlalu protektif, aku terlalu mencampuri dalam hal ini dan itu, dan aku terus memaksanya untuk tidak boleh gagal."

 

Ia lalu terdiam sejenak, lagi.

 

"Sepertinya sudah kebiasaanku untuk selalu proaktif terhadapnya tapi sebagai kebiasaan, tidak ada tempat untuk orang lain untuk selalu membantunya setiap hari, tapi ini bukanlah hal seharusnya kau lakukan, ini adalah tanggung-jawabku."

 

Kali ini sang kakak menunjukkan dirinya tanpa rasa malu tentang beban yang ia tanggung, setiap hari. Sasuke menyadari hal tersebut dan menatap ke arah lain, melihat ke arah sang adik yang sama sekali tak mengerti betapa besar usaha yang telah kakaknya lakukan demi dirinya. Si adik kemudian menatap balik ke arah Sasuke, dan Sasuke menyadari bahwa sang adik tidak tahu bagaimana caranya menghargai apa yang telah kakaknya lakukan di usia muda ini.

 

"Akan kutunjukkan padamu, Sasuke nii-san! Cara buatanku!"

 

Di satu sisi, kedua bersaudara itu terlihat memiliki perasaan yang berbeda, sang adik terlihat masih sangat polos dan bahkan belum tau apa-apa, sangat mirip dengan Sasuke di usia seperti itu.

 

Hanya dalam beberapa waktu, sang adik telah menunjukkan perkembangan dalam cara melempar shuriken, terasa seperti ia telah menumbuhkan semacam keberanian dalam dirinya. Ia terus melemparkan shuriken kertas miliknya tanpa henti.

 

Tangannya kini lebih baik jika dibandingkan dengan sebelumnya, sepertinya ia dapat dengan cepat beradaptasi. Shuriken-shuriken lemparannya melayang dan mengenai target dengan cukup baik.

 

"Luar biasa, kau kelihatan lebih baik sekarang, huh, adikku?" 

 

Sosok di bawah pohon tersenyum dan senang terhadap perkembangan adik kecilnya.

 

Adiknya juga merasa bangga, ia mungkin juga telah menyadari perkembangannya.

 

"Oh..."

 

Bagaimanapun, ketika matanya menerawang jauh ke arah barat, ekspresi kesal tergambar di wajahnya ketika ia menyadari sesuatu. Hari mulai menggelap, cahaya mentari perlahan menghilang, pertanda hari akan segera berakhir. Mereka saling beradu pandangan, dengan tanpa mengatakan apapun. Senja telah tiba.

 

"Akatsuki" itulah yang didengar Sasuke dari mulut si bocah kecil.

 

Akatsuki.

 

Tubuhnya seakan-akan membeku mendengar kata itu.

 

"Bukan, bodoh, itu bukan akatsuki (fajar). Akatsuki itu bukan di senja hari, karena artinya adalah cahaya fajar..." Daiko menjelaskan dengan lembut tentang arti kata itu kepada adiknya.

 

Cahaya fajar mungkin memang sedikit mirip dengan cahaya matahari terbenam di senja hari.

 

Secara refleks, Sasuke tertawa kecil.

 

Bagaimanapun, ekspresi yang ditunjukkan sang adik sedikit tidak jelas, semacam ekspresi penderitaan, ia kini mendekat ke sang kakak, Daiko.

 

Angin bertiup dari dasar lembah, menerbangkan kelopak-kelopak bunga ke arah langit barat.

 

Daiko mengarahkan kepala adiknya ketika ia melihat ke arah langit kemerahan di arah barat.

 

"Keluarga kami dibunuh oleh Akatsuki."

 

Kata-kata itu keluar bersama dengan aura kesedihan dari kedua bersaudara tersebut.

 

Tiba-tiba, Sasuke melihat pelangi berwarna merah akibat pantulan sinar merah mentari senja, mengingatkan dirinya akan pakaian hitam dengan pola awan merah seperti darah.

 

Ia kembali mengingat saat dimana Sasuke bertemu dengan kakaknya, ia memakai pakaian yang mirip dengan yang Ken saat ini kenakan, seperti jubah hitam dengan pola awan merah, pakaian khas Akatsuki.

 

Sang kakak memiliki pandangan yang terlihat menggelap dan Sasuke terus memperhatikannya.

 

Setiap anggota memiliki kekuatan yang luar biasa. Mereka semua membawa sisi kegelapan dari organisasi tersebut dan menyebarkan banyak ketakukan diantara para shinobi ketika mereka masih ada.

 

Inilah kisah mereka... 

 

Kisah dari Akatsuki.

 

MULAI BACA...

7 komentar:

  1. masih lama min? akasuki Hiden nya?

    BalasHapus
  2. Thanks min, untuk lanjutannya chapter 1,3,4 sama epilog semoga cepet selasai

    BalasHapus
  3. Ko yg bisa dibaca cuma Prolog sama part 2 ya, part 1 nya kemana min?

    BalasHapus
  4. kak, part 1 nya up donggg

    BalasHapus
  5. kak part 1 dll kok tidak bisa dibaca yah?

    BalasHapus